Umrah Backpacker (Bagian 1)

Umrah Backpacker (Bagian 1)

Jika ada yang bertanya, manalah yang lebih menyenangkan, umrah dengan travel agent ataukah umrah backpaker, maka jawabannya adalah sama-sama menyenangkan karena dua-duanya ada plus minusnya. Tapi bagi saya pribadi, saya lebih menyukai umrah backpacker, karena lebih bebas mengatur waktu dan rencana perjalanan. Dan untuk yang pertama kali berumrah, tentu saya saya menyarankan untuk melalui biro wisata.

Perjalanan ibadah kali ini adalah kali ketiga saya beribadah umrah. Tapi merupakan ibadah umrah backpacker yang pertama. Sungguh seperti mimpi, tidak tau bagaimana melukiskan bahagia ketika Allah memanggil saya dan keluarga sebagai tamunya.

Pesawat yang kami naiki adalah Air Asia rute Surabaya Jedah dan pulangnya dengan pesawat yang sama rute Jedah Jakarta. Saat itu Ramadhan hari ke 23, pagi itu kami sampai di bandara Jedah dengan disambut cuaca semilir yang sejuk, dan cuaca yang tidak begitu panas. Setelah selesai urusan imigrasi dan lain-lain kami segera keluar bandara.

Sebuah mobil minibus menunggu kami di luar bandara, bersiap membawa kami ke kota suci. Rasa lelah tidak mengalahkan bahagia saya. Saya benar benar menikmati setiap inci pemandangan yang saya lewati. Saya hirup udara panasnya dengan penuh cinta, Makkah. Kami merapal bermacam doa begitu memasukinya, berharap berkah menyirami hidup kami.

Waktu menunjukkan sekitar pukul satu ketika kami memasuki hotel di kawasan ajyad yang kami tempati. Sebuah hotel kecil yang terletak di ujung jalan di depan kompleks rumah raja. Begitu membuka tirai jendela, saya suka pemandangannya. Terlihat gunung batu di seberang, dan sebuah mobil patroli yang selalu ada di ujung jalan dekat terowongan.

Setelah istirahat secukupnya, kami bersiap menuju masjid. Berjalan kaki menyusuri jalanan antara Ajyad dan al haram. Di tengah terik kami nikmati suasananya, melewati hotel hotel dan toko toko yang menjual aneka oleh oleh yang berasal dari berbagai belahan dunia.
Saya tengadah memandang langit, tak mampu mengungkapkan syukur yang berkecamuk di dada. Gusti Allah yang maha kaya mengirim kami yang tidak punya apa apa ini sebagai tamu Nya, Subhanallah…. Tampak di atas kami clock tower, ikon kota Makkah. Sebuah jam besar yang tinggi menjulang.

Di depan Masjid al Haram, Seraya merapal doa kami berjalan, mengagumi keindahan arsitekturnya dan mengharap berkahnya. Melihat ka’bah yang mulia, masing masing dari kami tidak mampu membendung air mata. Antara haru dan syukur yang tidak bisa lagi saya bedakan. Berbagai rasa berkecamuk tak bisa diceritakan.
Makkah itu cinta,
Alhamdulillah…

Diterbitkan oleh Muslimatul Faiqoh

Pemburu Rahmat Allah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: