Kebersamaan

Dulu ketika saya di pesantren, setiap dua Minggu sekali orang tua saya datang menjenguk. Hari sambang di pondok kami adalah hari Jumat, karena madrasah kami libur di hari Jumat. Setiap Jumat waktu sambang mulai pagi saya sudah menunggu-nunggu. Menunggu bertemu abah dan ibu saya, dan juga menunggu oleh-oleh yang mereka bawa.

Ketika ibu datang, beliau selalu membawa makanan dalam jumlah yang sangat banyak. Nasi yang cukup dimakan sekitar dua puluhan orang itu selalu dibungkus daun dengan cara digulung. Lauk kesukaan yang tidak pernah ketinggalan adalah sambal goreng tempe kering. Ibu menyuruhku membuka makanan tersebut dan kami sekamar yang berjumlah kurang lebih dua puluh anak pun makan bersama. Momen kebersamaan seperti inilah yang tidak pernah saya lupakan sampai sekarang.

Seiring waktu berjalan, sekarang saya sudah menempati posisi sebagai ibu saya dulu. Setiap hari Minggu saya menjenguk putra saya di pondok pesantren. Meskipun tidak bisa memasak sebanyak yang ibu buatkan dulu untuk saya, saya tidak lupa membawa sejumlah nasi untuk putra saya dan teman-teman sekamarnya. Nasinya tidak lagi dibungkus daun pisang seperti dulu, tapi di bakul plastik yang saya selipkan kertas pangsit untuk mereka makan bersama. Terkadang saya wadahi kardus makan atau stereofoam. Dan putra saya pun merasakan dengan teman-temannya, seperti saya dulu.

Diterbitkan oleh Muslimatul Faiqoh

Pemburu Rahmat Allah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: