syair cinta


Pada mulanya adalah kamu. Baru kemudian ada para wanita

Dua puluh tahun aku menulis tentang cinta, masih saja aku di halaman pertama.

Kautanyaiku, Kekasih, “Apa bedaku dengan langit?” Bedanya, saat kau tertawa, aku lupa tentang langit.

Biar aku berkata padamu dengan diam kala kata-kata tak mampu mengungkap yang kuderita.

Kusuka diammu, sebab ia sekaligus segala bahasa.

Persahabatan ialah rencana menuju cinta. Cinta ialah rencana menuju luka.

Aku tak ingin kaucintai sampai mati. Cintai aku hingga hidup!

Masuk ke hatiku itu susah, Tuan Puteri, sebab keluar darinya mustahil.

Aku bersamamu, kau bersamaku, tapi kita tak sedang bersama—itulah perpisahan!

Dalam jeda antara tiada dan hadirmu, ada yang retak; yang tak akan kembali seperti semula.

Yang membuatku sedih: Kau wanita yang ambigu, sedang bahasa hanya satu.

Aku musafir di kedua matamu tanpa peta.

Dalam cinta, matilah segala penjelasan.

Mencintaimu itu bagai lahir dan mati: tak mungkin terulang kedua kali.

Jangan tanyaiku mengapa kucintaimu, sebab aku tak punya pilihan.

Hari lahirku adalah kamu. Sebelummu, aku tak ingat bahwa aku pernah ada.

Kamulah teks puisi yang belum pernah tertulis semacamnya, sedang wanita-wanita lain adalah catatan kaki.

Ajari aku cara berjalan di bawah rintik hujan matamu tapi aku tak basah.

Karena kucintaimu, kuingin kau jadi huruf ke-29 dalam tata abjadku.

Kala cinta menimpa, maka tiada mengapa, tiada bagaimana.

Kalau kutahu akhir cinta, tidaklah aku memulainya.

Mencintaimu mengajariku untuk menangis tanpa tangis.

Kata-kata kita tentang cinta membunuh cinta: huruf-huruf mati kala ia terucap.

Menunggu tanpa harapan ialah mati dalam hidup.

Kadang kau butuh lari sekedar untuk melihat siapa yang kan mengikuti di belakangmu.

Kalau tak kulihat negeri keduaku di kedua matamu, maka dunia ini adalah dusta.

Mawar-mawar terindah ialah yang tumbuh di taman-taman kegundahan.

Ajari aku cara menangkap kamu yang bagai titik di akhir garis.

Sangat kuingin, tanya-tanya yang kuajukan tentang cinta lebih banyak dari jawab-jawab yang kuterima.

Sebab cintaku melampaui kata-kata, maka kuputuskan untuk diam. Wassalam

Diterbitkan oleh Muslimatul Faiqoh

Pemburu Rahmat Allah

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: